Minggu, 11 Desember 2011

Landasan Budaya dalam Membangun Pariwisata Sumatera Barat

Landasan Budaya dalam Membangun Pariwisata

di Sumatera Barat


Oleh : H. Mas’oed Abidin

Pendahuluan

Allah telah mentakdirkan kita sebagai satu kaum yang menempati dataran tinggi dan rendah. Berbukit, berlurah, dihiasi tebing dan munggu. Sungainya mengalir melingkar membalut negeri, seperti Batang Sianok diam - diam mengalir terus. Akhirnya bermuara di pinggir laut di Batang Masang dan Katiagan. Ditingkah gemercik air menimpa dedaunan dipagi hari. Bila hujan pun tidak turun, embun tetap menyuburkan tanah. Dikelilingnya didapati sawah berjenjang, ladang berbintalak. Diapit gunung menjulang tinggi, dikawal Singgalang dan Merapi. Danau Maninjau airnya biru, tampak nan dari Embun Pagi.. Sungguhpun risau sering mengganggu, kampung halaman selalu menanti. Indah sekali !!!

Alam yang indah karunia Ilahi ini, seakan “qith’ah minal jannah fid-dunya”, sepotong sorga tercampak kebumi. Mengundang orang yang datang berdecak kagum. Keindahan alam ini, bertambah cantik, karena ada pagar adat yang kuat dan agama yang kokoh. Tampak dalam tata pergaulan dan sikap laku sejak dahulu. Masyarakatnya ramah. Peduli dengan anak dagang.

Pendidikannya maju. Dengan negeri ribuan dokter, dan para ahli. Hanya didataran tinggi ini, ditemui Parabek dan Canduang. Tempat bermukim para penuntut ilmu dari seluruh penjuru. Bahkan dari Malaysia, Brunei, Thailand dan Pattani. Di samping dari seluruh Nusantara, bahkan dari Aceh, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Disini pula didapati satu-satunya Kwik School, sekolah guru, kata orang doeloe, yang melahirkan banyak pujangga dan pendidik. Dari halaman negeri ini menjadi tempat bermain para cendekiawan, Agus Salim, Hatta, Syahrir, Natsir, dan sederetan nama yang panjang, yang dikenal menjadi negarawan yang diakui. Dan ini adalah bahagian dari kaba itu.

Bila kaba ini ingin di lanjutkan pula. Yang bersua adalah hidup anak negeri berpagarkan nilai-nilai.

Nilai-nilai Adat

Sebagai masyarakat beradat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pula pelajaran-pelajaran ke dalam tatanan hidup masyarakatnya.

Masyarakatnya rajin bekerja, Ka lauik riak mahampeh. Ka karang rancam ma-aruih. Ka pantai ombak mamacah. Jiko mangauik kameh-kameh. Jiko mencancang, putuih – putuih. Lah salasai mangko-nyo sudah. Artinya setiap yang dilakukan haruslah program oriented. Sama sekali bukanlah kemauan perseorangan (orientasi personal) semata.

Sejak dari perencanaan hingga sasaran yang hendak dicapai terpolarisasi melalui persilangan pendapat masyarakat di tempat mana program itu akan dilaksanakan seiring dengan pranata sosial budaya (”social and cultural institution”) yang menjadi batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama dan menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama.

Pranata sosial Masyarakat Beragama di Sumatera Barat yang didiami masyarakat adat Minangkabau semestinya berpedoman (bersandikan) kepada Syarak dan Kitabullah. Agama Islam yang bersumber kepada Kitabullah (Al Quranul Karim) dan Sunnah Rasulullah itu, maka pelaksanaan atau pengamalannya tampak atau direkam dalam Praktek Ibadah, Pola Pandang dan Karakter Masyarakatnya, Sikap Umum dalam Ragam Hubungan Sosial penganutnya.

Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan, hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur yang tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan dalam kecerdasan budaya serta memperhalus kecerdasan emosional serta dipertajam oleh kemampuan periksa evaluasi positif dan negatif atau kecerdasan rasional intelektual yang dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) ini akan melahirkan tindakan terpuji, yang tumbuh dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas).

Masyarakat Sumatera Barat dengan Penduduk terbesar memiliki ciri khas adat Minangkabau berfilososi ABSSBK) adalah Masyarakat Beradat Dan Beradab. Kegiatan hidup bermasyarakat dalam kawasan ini selalu dipengaruhi oleh berbagai lingkungan tatanan (”system”) pada berbagai tataran (”structural levels”).

Yang paling mendasar tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya yang akan membentuk Pandangan Hidup dan Panduan Dunia (perspektif), yang akan
  1. memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat kota dan kabupaten di Sumatera Barat, berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan dari masyarakat itu.
  2. menjadi landasan pembentukan pranata sosial keorganisasian dan pendidikan yang melahirkan berbagai gerakan dakwah dan bentuk kegiatan yang akan dikembangkan secara formal ataupun informal.
  3. menjadi pedoman petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakatdi dalam kehidupan sendiri-sendiri, maupun bersama-sama.
  4. memberikan ruang dan batasan-batasan bagi pengembangan kreatif potensi remaja di Sumatera Barat dalam menghasilkan buah karya sosial, budaya dan berdampak ekonomi, serta karya-karya pemikiran intelektual, yang akan menjadi mesin perkembangan dan pertumbuhan Sumatera Barat di segala bidang.


Sebagai contoh, Pemilihan Uni Uda sebagai Duta Wisata Sumatera Barat” mestinya harus jelas kriteria yang akan menyandangnya. Uni Uda adalah generasi muda yang mengenal adat budayanya dan mentaati agamanya dengan sifat‑sifat mulia diantaranya lembut hatinya, penyabar, penyayang kepada sesama, keras dalam mempertahankan harga diri, tegas, teguh dan kuat iman dalam melaksanakan suruhan Allah, pendamai, suka memaafkan dan mampu menjadi pemimpin masyarakatnya.


Generasi Muda di Minangkabau memiliki sifat sebagai digambarkan dalam filosofi adatnya sebagai berikut;

”Adopun nan di sabuik rang mudo, tapakai taratik dengan sopan. Mamakai baso jo basi. Tahu di ereang jo gendeang. Mamakai raso jo pareso. Manaruah malu dengan sopan. Manjauhi sumbang jo salah. Muluik manih baso katuju. Kato baiak kucindan murah, pandai bagaua samo gadang. Hormat kapado ibu bapo. Khidmat kapado urang tuo-tuo. Takuik kapado Allah, manuruik parentah Rasulullah. Tahu di korong dengan kampuang, tahu di rumah dengan ranggo. Takuik di budi katajua. Malu di paham ka tagadai. Tahu di mungkin dengan patuik. Malatakkan sasuatu pado tampeknyo. Tahu di tinggi dengan randah, Bayang-bayang sapanjang badan. Bulieh ditiru dituladan. Kasuri tuladan kain, kacupak tuladan batuang. Maleleh buliaeh dipalik, manitiak bulieh ditampuang. Satitiak bulieh dilauikkan, sakapa dapek digunuangkan. Capek kaki ringan tangan. Namuah di suruah di sarayo. Iyo dek urang di nagari.”.

Inilah, harkat generasi muda yang akan menyandang gelar uni dan uda di Ranah Bundo Sumatera Barat.


Kaedah dari nilai nilai adat ini tiada lain adalah penerapan dinamika kehidupan masyarakat yang inovatif, kreatif, yang sangat diperlukan untuk pengembangan daerah dalam menggali potensinya.

Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju, Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangkonyo manjadi. Arti yang lebih menukik adalah kooperatif.

Adalah wajar sekali, kalau bapak koperasi itu lahir dari putra Minangkabau. Ada suatu unggulan yang sangat spesifik dan mendorong kepada optimisme yang tinggi. Lebih egaliter, tak pernah mau dikalahkan. Konsekwensinya, adalah siap tampil dengan keungulan. Tidak hanya semata tampil beda.


Pariwisata yang dikaitkan dengan ekonomi kreatif berarti ada upaya yang jelas dan terang mencapai tingkat kemakmuran masyarakat disekitarnya. Makmur tidak milik satu orang. Kemakmuran akan terpelihara bila keamanan terjamin. Semua orang dapat menimati kemakmuran secara patut dan pantas dalam keserta-mertaan.

Dalam pengembangan setiap usaha diperlukan pemerataan penghasilan. Karena itu perhatian dengan penuh kehati-hatian sangatlah penting. Ingek sabalun kanai, Kulimek balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai. Agak-agak nan ka-tingga. Teranglah sudah ...., bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat lahir dan batin material dan spiritual pasti dia akan menemui disini satu iklim kejiwaan (mental climate) yang subur. Bila pandai menggunakannya dengan tepat akan banyak sekali membantunya dalam usaha membangun anak nagari dan kampung halaman. Artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku.

Melupakan atau mengabaikan ini, lantaran menganggap sebagai barang kuno di zaman modernisasi ini berarti satu kerugian. Sebab berarti mengabaikan satu partner "yang amat berguna" dalam pembangunan masyarakat dan negara.


Nilai Agama


Masyarakat Minang khususnya di Sumatera Barat umatnya seratus prosen Islam. Sungguhpun kita menyaksikan satu kondisi terjadinya pergeseran pandangan masyarakat dewasa ini. Namun, perpaduan budaya di Sumatera Barat dengan upaya melaksanakan secara murni konsep agama dalam setiap perubahan maka peradaban akan kembali gemerlapan. Berpaling dari sumber kekuatan murni dengan menanggalkan prinsip syar’i dan akhlak Islami akan berakibat fatal untuk umat Islam dan penduduk Sumatera Barat.

Nilai nilai luhur adat budaya menjadi sempurna dengan bimbingan nilai Agama Islam. Kembali kepada watak Islam tidak dapat ditawar-tawar lagi. Bila kehidupan manusia ingin diperbaiki. Sebagaimana Firman Allah menyebutkan ; “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka ? (Pada hal), Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri mereka sendiri. Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olokkannya” (QS.30, Ar-Rum, ayat 9-10).

Tuntutan kedepan agar umat lahir dengan iman dalam ikatan budaya (tamaddun). Rahasia keberhasilan adalah “tidak terburu-buru” dalam bertindak. Tidak memetik sebelum ranum. Tidak membiarkan jatuh ketempat yang dicela. Kepastian adanya husnu-dzan (sangka baik) sesama umat. Kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak, sebelum kekuasaan itu menjejak bumi. Ukurannya adalah adil dan takarannya adalah kemashlahatan umat banyak. Kemasannya adalah jujur secara transparan.

Kekuatan hati (dhamir) penduduk (rakyat) terletak pada kecintaan yang tulus. Menghidupkan energi ruhanik lebih didahulukan sebelum menggerakkan fisik umat. Titik lemah umat karena hilangnya akhlaq, moralitas Islami. Tidak menghormati hubungan antar manusia, merupakan kebodohan pengertian terhadap prinsip sunnah. Akibatnya adalah tindakan merusak (anarkis).


Menyigi Potensi Pariwisata Di Sumatera Barat

  1. Keindahan Alamnya sangat potensial. Indah. Sangat indah. Menjadi alat promosi pariwisata internasional. Sudahkah dicatatkan sebagai trade mark ???
  2. Adatnya kokoh. Masih tersimpan dalam perilaku empat jinih di nagari. Masihkah masyarakat Minang tahu di nan ampek ???
  3. Agamanya kuat. Banyak sekolah, madrasah yang bisa diangkat kualitasnya. Sebab promosinya sudah lama dikenal. Problematikanya, kenyataan bahwa jalinan ini mulai mengendur. Karena pergeseran nilai-nilai. Akibatnya, kita kehilangan salah satu asset yang amat potensial. Apa upaya mendudukkanny kembali ??? Rakyatnya rajin. Bagaimana memelihara dan memacunya ???
  4. Setiap daerah memiliki keunggulan. Dari segi makanan, ada Rinuak Maninjau, Karak kaliang Sungai Jariang, Bilih di Singkarak, Dakak-dakak di Luhak Nan Tuo, Gulai Itiak Koto Gadang, Daun Kahwa dari Pagadih, Randang Minang di semua daerah, Kue Kacang dari Biaro, Sarang Balam dari Batagak, Pangek dari Sumpu, Kue Sangko dari Sungai Puar, Saka Lawang dan Sungai Landir, Nasi Kapau dan banyak sekali potensi yang menarik bisa dijual. Siapakah yang menjualnya sekarang ???
  5. Setiap desa ada produk. Jauh sebelum Jepang menerapkan “one village one product”. Tenunan Pandai Sikek (Batagak), Kerajinan emas (Guguak Tinggi, Guguak Randah), Silver Work (Kotogadang), Konveksi (IV Angkat), Kerajinan Besi (Sungai Puar), Tarawang (IV Angkat dan Nareh), Suji (Kamang, dan Pariaman). Tugas kedepan, adalah membuat perubahan program dari memperdayakan kepada memberdayakan. Mampukah kita ???


Kesimpulan

Pariwisata, mengundang orang untuk melihat apa yang tidak ada pada mereka. Pariwisata yang berhasil adalah yang menyajikan produk wisata yang bisa mengasilkan pendapatan anak nagari. Mendorong mereka untuk hidup, dan memberi hidup. Pariwisata menyajikan produk yang belum atau tidak dimiliki orang lain (produk unggulan). Pariwisata itu mestinya menarik, cantik, spesifik, tertata apik dan unik. Sangat perlu kesiapan-kesiapan antara lain ;

  1. Melibatkan seluruh unsur anak nagari berperilaku yang menarik. Melibatkan kembali semua anak nagari memakaikan adat dan agama yang terjalin erat dan rapi. Sehingga menjadi bahan penelitian bagi orang lain. Contoh seperti di Bali, Brunei, Malaysia, India, yang melaksanakan apa yang kita sebut “indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan”, yaitu budaya dan tamaddun.
  2. Pariwisata yang akan lama bertahan adalah wisata budaya, alam, spiritual, ilmu pengetahuan, disamping situs-situs peninggalan lama. Di Sumatera Barat masih tersimpan semuanya itu. Lebih jauh, akan lahir dengan sendirinya para peneliti, kolektor potensi-potensi budaya tersebut.
  3. Latihan pemandu wisata, yang beradat dan beragama menjadi satu yang sangat utama sebagai pendukung pariwisata Sumatera Barat.
  4. Event-event Internasional,
  • Pertemuan pelukis sketsa Manca Negara dikaki Merapi, Singgalang, Danau Kembar, Embun Pagi Danau Maninjau dan sebagainya.
  • Pencak Silat Harimau Campo Luhak Agam dan Luhak Nan Tuo.
  • Pertandingan Layang-layang seperti Jepang. Thailand dan Italia.
  • Festival tari, folk-lore, dan sejenisnya. Dan banyak lagi yang bias digali secara kreatif.


Akhirulkalam, gagasan ini dapat dikembangkan dalam scope yang lebih luas, yakni Budaya Minangkabau asset pariwisata Sumatera Barat. Insya Allah.

Padang, 7 Desember 2011

Kamis, 17 November 2011

Strategi Pemahaman dan penerapan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di kalangan Ninik Mamak dan Masyarakat Nagari

Strategi Pemahaman dan penerapan

Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

di kalangan Ninik Mamak dan Masyarakat Nagari

(‘Musyawarat’ - asas demokrasi -, Sebagai Dasar Mengembangkan

‘Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah’)

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Mukaddimah

PATUT SEKALI KITA BERSYUKUR, bahwa nikmat Allah dapat kita rasakan, dengan berbagai kelebihannya, melalui ketekunan sambung bersambung, dalam satu tatanan langgo langgi (struktur) Masyarakat Hukum Adat di Minangkabau. Keterpaduan hati, tekad dan langkah banyak memberikan kontribusi membangun daerah kita di Sumatera Barat yang mempunyai kekuatan masyarakat dalam bentuk lain, yakni adat budayanya dalam filosofi ABSSBK. Langgo Langgi MHA Minangkabau itu tampak jelas di Nagari yang terdiri dari suku, kampuang, jurai yang bermula dari rumah tangga.


Pada semua tingkatan itu ada pengawalnya yang duduk pada posisi dan fungsinya, ibarat kata pepatah karajo ba umpuak surang surang, urang ba jabatan masieng, artinya ada pembagian pekerjaan masing masing. Dari sini sebenarnya pembentukan watak generasi (pendidikan berkarakter) itu di awali.

Abad ini memang sedang terjadi lonjakan perubahan cepat transparan tanpa sekat. Hubungan komunikasi informasi dan transportasi menjadikan jarak jadi dekat, yang berpengaruh kepada nilai-nilai tamadun yang sudah ada. Ada kekuatan Budaya Minangkabau karena terikat kuat dengan penghayatan Islam. Terbukti dimasa yang panjang menjadi salah satu puncak kebudayaan dunia. Kelengahan dalam menghadapi derasnya intervensi budaya asing, akan berakibat jalan di alieh urang lalu, sukatan di tuka urang panggaleh. Situasinya seakan membakar obat nyamuk. Lapis luar berangsur punah. Api beringsut menuju lingkaran dalam. Akhirnya yang tersisa abu semata.

Desa‑desa yang tadinya terisolir sekarang telah dibuka jadi sentra perkebunan besar (seperti di Pasaman, Sitiung dan Solok Selatan). Seiring itu hubungan muda‑mudi mulai berbuka-bukaan pula tanpa batas. Hubungan kekerabatan mulai menipis. Peran ninik mamak melemah sebatas seremonial. Peran imam khatib terbatas sekedar pengisi ceramah. Masjid dan surau lengang dan mati kegiatan. Kedudukan orang tua hanya memenuhi keperluan materi turunannya. Guru‑guru disekolah hanya bertugas mengajar. Peran pendidikan menjadi kabur. Mengatasi semua itu, amat perlu membangun peribadi unggul dengan iman dan taqwa, berlimu pengetahuan, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, bermoral akhlak, beradat dan beragama.

PERPADUAN ADAT DAN SYARAK

Berpedoman kepada Firman Allah menyatakan, “ Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13). Nabi Muhammad SAW memesankan bahwa “Perbedaan di tengah-tengah umatku adalah rahmat” (Al Hadist). Dan “innaz-zaman qad istadara”, bahwa sesungguhnya zaman berubah masa berganti (Al Hadist). Fatwa adat di Minangkabau mengungkapkan “Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik”.

MASYARAKAT ABSSBK DI SUMATERA BARAT memiliki ciri khas adat Minangkabau berfilososi ABSSBK adalah Masyarakat Beradat dan Beradab yang Beragama Islam.


ABS-SBK sekarang menjadi konsep dasar Adat (Adat Nan Sabana Adat) diungkapkan, antara lain lewat Bahasa, yang direkam sebagai Kato Pusako. ABS SBK memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan masyarakat. Kegiatan hidup bermasyarakat dalam kawasan ini selalu dipengaruhi oleh berbagai tatanan (system) pada berbagai tataran (structural levels).

Paling mendasar adalah tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya yang membentuk Pandangan Dunia dan Panduan Hidup (perspektif).

a. memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat nagari dalam kabupaten (kota) di Sumatera Barat, berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan dari masyarakat itu.

b. menjadi landasan pembentukan pranata sosial keorganisasian dan pendidikan yang melahirkan berbagai gerakan, permainan, produk budaya yang dikembangkan secara formal ataupun informal.

c. menjadi petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri, maupun bersama-sama.

d. memberi ruang dan batasan-batasan bagi pengembangan kreatif potensi nagari dan penduduknya di Sumatera Barat dalam menghasilkan buah karya sosial budaya yang berdampak kepada peningkatan ekonomi anak nagari, serta karya-karya pemikiran intelektual serta keragaman tambo yang terlihat nyata sebagai folklore yang telah dan akan menjadi mesin pengembangan dan pertumbuhan Sumatera Barat di segala bidang.

Sebagai masyarakat beradat dengan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pelajaran strategi dalam penerapannya.

1. Mengutamakan prinsip hidup keseimbangan.” Islam menghendaki keseimbangan antara rohani dan jasmani. "Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara" (Hadist). Keseimbangan tampak di ranah ini, “Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu, Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan. Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang. "Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya" (Hadist).

2. Kesadaran kepada bagaimana luasnya bumi Allah.”. Allah menjadikan bumi mudah untuk digunakan. “Maka berpencarlah kamu diatas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan". (QS.62, Al Jumu’ah : 10). Supaya jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil, dan sempit (QS.4, An Nisak : 97). Karatau madang dihulu babuah babungo balun. Marantau buyuang dahulu dirumah paguno balun. Kemudian meng-introdusir tenaga mereka kembali kemasyarakatnya merasakan denyut nadi kehidupan dan berurat pada hati umat itu.

Ditanamkan pentingnya kehati-hatian Ingek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”. Memiliki jati diri, self help dengan tulang delapan kerat walau dengan memakai cara amat sederhana sekalipun "lebih terhormat", daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain. Membiarkan diri hidup dalam kemiskinan dengan tidak berusaha adalah salah. "Kefakiran (kemiskinan) membawa orang kepada kekufuran (ke-engkaran)" (Hadist).

TATA RUANG

Nagari tumbuh dengan konsep tata ruang yang jelas. Ba-balerong (balai adat) tempat musyawarah, ba-surau (musajik) tempat beribadah. Ba-gelanggang tempat berkumpul. Ba-tapian tempat mandi. Ba-pandam pekuburan. Ba-sawah bapamatang, ba-ladang babintalak, ba-korong bakampung. Konsep tata-ruang ini adalah salah satu asset sangat berharga. Idealisme nilai budaya di Minangkabau. Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek kaparak, Nan bancah jadikan sawah, Nan munggu pandam pakuburan, Nan gauang katabek ikan, Nan padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak. Tata ruang yang jelas itu memberikan posisi strategis kepada peran pengatur, pemelihara dan pendukung sistim banagari.

Pemeran itu telah disepakati terdiri dari orang ampek jinih (ninik mamak[1], alim ulama[2], cerdik pandai[3], urang mudo[4], bundo kanduang[5]).

Nagari di Minangkabau tidak hanya sebatas ulayat hukum adat. Paling utama wilayah kesepakatan antar komponen masyarakat. Menjaga keseimbangan kemajuan dibidang rohani dan jasmani. “Jiko mangaji dari alif, Jiko babilang dari aso, Jiko naiak dari janjang, Jiko turun dari tango”. Sikap hidup ini menjadi dorongan kegiatan masyarakat di bidang ekonomi dengan sikap tawakkal bekerja dan tidak boros. [6]. Hasilnya tergantung dalam dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa masyarakatnya.

STRATEGI PENGAMALAN DI NAGARI

Strategi Membangun Nagari dalam pengamalan ABSSBK lebih dititik beratkan kepada menghormati kesepakatan bersama dalam kerangka adaik sa lingka nagari. Perubahan cepat yang sedang terjadi di tengah derasnya gelombang arus kesejagatan telah mengubah perilaku masyarakat, pengelolaan wilayah dan asset, serta perkembangan norma dan adat istiadat di banyak nagari di Sumatera Barat. Perubahan perilaku tersebut mengedepankan perebutan prestise berbalut materialistis dan individualis. Kepentingan bersama dan masyarakat sering di abaikan. Idealisme kebudayaan Minangkabau menjadi sasaran cercaan. Upaya pencapaian hasil kebersamaan (kolektif, gotong royong dalam bermasyarakat) menjadi kurang diacuhkan. Nagari di Minangkabau (Sumatera Barat) seakan sebuah republik kecil. Mini Republik ini punya sistim demokrasi murni, pemerintahan sendiri, asset sendiri, wilayah sendiri, perangkat masyarakat sendiri, sumber penghasilan sendiri, bahkan hukum dan norma-norma adat sendiri atau mempunyai Suku, Sako dan Pusako.


Muara pertama terdapat pada supra struktur pemerintahan nagari, dimana kepala pemerintahan nagari (kepala nagari) berperan sebagai kepala pemerintahan di nagari dan juga pimpinan adat. Sebagai kepala pemerintahan terendah di nagari ada hirarki yang jelas dengan pemerintahan di atasnya (kecamatan atau kabupaten). Sebagai kepala adat mesti berurat kebawah ditengah komunitas adat istiadat yang dijunjung tinggi anak nagari. Minangkabau tetap bersatu dalam adat salingka nagari dan pusako salingka kaum. Satu strategi yang mesti dipahami dan diperankan. Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai, Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali, Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso, Handak pandai rajin balaja. Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju, Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangkonyo manjadi. [7] Semestinya strategi pemerintahan nagari mesti bermula dari (a). kesediaan rujuk kepada hukum adat (norma yang berlaku di nagari) dan (b). kesetiaan melaksanakan hukum positf (undang-undang negara).

Muara kedua, dukungan masyarakat adat (kesepakatan tungku tigo sajarangan yang terdiri dari ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang dan kalangan rang mudo) dalam satu tatanan sistim pemerintahan (perundang-undangan). Anak nagari amat berkepentingan dalam merumuskan nagarinya. Konsepnya tumbuh dari akar nagari itu. Lah masak padi 'rang singkarak, masaknyo batangkai-tangkai, satangkai jarang nan mudo, Kabek sabalik buhus sintak, Jaranglah urang nan ma-ungkai, Tibo nan punyo rarak sajo. Perlu orang yang ahli dibidangnya. Supaya jangan “ibarat mengajar kuda memakan dedak”.

Masyarakat nagari sesungguhnya tidak terdiri dari satu keturunan (suku) saja. Ada beberapa suku asal muasal dari berbagai daerah di sekeliling ranah bundo. Sungguhpun berbeda, namun dapat bersatu dalam satu kaedah hinggok mancangkam tabang basitumpu atau hinggok mencari suku dan tabang mencari ibu.

Strategi pengamalan dari pemahaman masyarakat saling menghargai dan menghormati. Dima bumi di pijak, di sinan langik di junjuang, di situ adaik bapakai. Satu bentuk perilaku duduk samo randah tagak samo tinggi sebagai prinsip egaliter di Minangkabau. Sungguh inilah prinsip demokrasi yang murni. Otoritas masyarakat sangat independen. Maka langkah strategi yang penting adalah,

1. Menguasai informasi substansial.

2. Mendukung pemerintahan yang menerapkan low-enforcment.

3. Memperkuat kesatuan dan Persatuan di nagari-nagari.

4. Muaranya adalah ketahanan masyarakat dan ketahanan diri.

Strategi Pemahaman pengamalan ABSSBK di Nagari adalah menggali potensi dan asset nagari. Mengabaikannya pasti mendatangkan kesengsaraan bagi masyarakat adat itu. Penerapannya dimulai dengan memanggil potensi unsur manusia yang ada di masyarakat nagari. Kesadaran akan adanya benih kekuatan dalam diri anggota masyarakat hukum adat untuk kemudian digali dan digerakkan melalui penyertaan aktif dalam proses pembangunan nagari. Melalui kegiatan bermasyarakat itu pula observasinya dipertajam. Daya pikirnya ditingkatkan. Daya geraknya didinamiskan. Daya ciptanya diperhalus. Daya kemauannya dibangkitkan dengan mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri. Tujuannya sampai kepada taraf yang memungkinkan untuk mampu berdiri sendiri dan membantu nagari tetangga secara selfless help, dengan memberikan bantuan tanpa mengharapkan balas jasa. Optimisme banagari mesti selalu dipelihara. Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik. [8]


Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan, hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur yang tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan dalam kecerdasan budaya serta memperhalus kecerdasan emosional serta dipertajam oleh kemampuan periksa evaluasi positif dan negatif atau kecerdasan rasional intelektual yang dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) ini akan melahirkan tindakan terpuji, yang tumbuh dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas).

Kelemahan mendasar pada melemahnya jati diri. Kurangnya komitmen kepada nilai-nilai luhur agama yang menjadi anutan bangsa. Dipertajam oleh tindakan isolasi diri. Kurang menguasai politik, ekonomi, sosial budaya. Lemahnya minat menuntut ilmu. Kelemahan internal masyarakat adat akan menutup peluang berperan serta dalam kesejagatan. Semakin parah karena pembiaran kebebasan tanpa kawalan.

Pranata sosial budaya adalah batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama. Pranata sosial Masyarakat Beragama semestinya berpedoman (bersandikan) kepada Syarak dan Kitabullah. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.

Seringkali dalam pembentukan karakter bangsa kita di abaikan oleh dorongan hendak menghidupkan toleransi. Padahal tasamuh itu memiliki batas-batas tertentu pula. Amat penting untuk mempersiapkan generasi Sumatera Barat yang mempunyai bekal mengenali keadaan masyarakat binaan, aspek geografi dan demografi,, sejarah, latar belakang masyarakat, kondisi sosial, ekonomi, tamadun, budaya dan adat-istiadat dengan berbudi bahasa yang baik. Batasan batasan perilaku atas dasar kesepakatan bersama menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan dalam menata kehidupan bersama.

Diperlukan Kerja Keras Untuk Meningkatkan Mutu SDM anak nagari ;

1) Penguatan potensi yang sudah ada (urang ampek jinih, tungku tigo sajarangan) melalui program utama yakni kebersamaan (gotong royong). Memperkuat SDM bertujuan membentuk masyarakat beradat dan beragama sebagai suatu identitas yang tidak dapat ditolak dalam satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam iklim adat basandi syara' syara' basandi Kitabullah. Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan "nawaitu" dalam diri masing-masing. Membina umat dalam masyarakat harus di ketahui kekuatan dalam masyarakat itu. Latiak-latiak tabang ka Pinang, Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo. Program utamanya menumbuhkan SDM sehat dengan gizi cukup, meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (terutama terapan). Mengokohkan pemahaman agama, sehingga anak negari menjadi sehat rohani, menjaga terlaksananya dengan baik norma-norma adat, sehingga anak nagari menjadi masyarakat beradat yang beragama (Islam).

2) Menggali potensi SDA yang ada di nagari yang diselaraskan dengan perkembangan dengan strategi menguatkan ketahanan ekonomi rakyat. Membangun kesejahteraan bertolak dari pembinaan unsur manusia dari menolong diri sendiri (self help) kepada tolong-menolong (gotong royong atau mutual help) sebagai puncak budaya adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Gotong royong adalah strategi membangun masyarakat adat melalui pembagian pekerjaan atau ber-ta'awun sesuai dengan anjuran Islam, "Bantu membantu (gotong royong, ta'awun, mutual help) dalam rangka pembagian pekerjaan (division of labour) menurut keahlian masing-masing akan mempercepat proses mempertinggi mutu yang dihasilkan. Strategi membangun masyarakat adat berdasar pemahaman ABSSBK atau taraf ihsan sesuai ajaran Kitabullah dalam agama Islam.

Memperindah nagari. Indikator utama adalah ; a). Pencapaian moral adat. Nan kuriak kundi, nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso. Atau dapat disebut sebagai karakter building. b). Efisiensi organisasi pemerintahan nagari dengan mendudukkan kembali (reposisi) komponen masyarakat pada posisi subyek di nagari. c).Pemeranan fungsi fungsi (refungsionisasi) elemen masyarakat. Membentuk masyarakat beradat dan beragama sebagai suatu identitas dalam satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam iklim adat basandi syara' syara' basandi Kitabullah, "Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk) sebagaimana Allah berbuat baik terhadapmu sendiri (yakni berbuat baik tanpa harapkan balasan). (QS.28, Al Qashash : 77).

Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan "nawaitu" dalam diri masing-masing. Untuk membina umat dalam masyarakat desa harus di ketahui pula kekuatan. Latiak-latiak tabang ka Pinang, Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo.

Pengendali kemajuan sebenar adalah agama dan budaya umat (umatisasi). Tercerabutnya agama dari masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat akan berakibat besar kepada perubahan perilaku dan tatanan masyarakat adatnya. [9] Perlu dipahami penerapan filosofi Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah tampak jelas pada syarak (agama Islam) mangato (memerintahkan) maka adat mamakai (melaksanakan). Satu kecemasan masyarakat hukum adat kini adalah sebahagian generasi kurang menyadari tempat berpijak. Perlu strategi penyatuan gerak langkah di kalangan tungku tigo sajarangan.

Pemantapan tamaddun, agama dan adat budaya di dalam tatanan kehidupan menjadi landasan dasar pengkaderan re-generasi. Strateginya dengan menanamkan kearifan keyakinan bahwa apa yang ada sekarang akan menjadi milik generasi mendatang. Ada beban kewajiban memelihara warisan budaya kepada generasi pengganti secara lebih baik dan lebih sempurna agar tetap berlangsung proses timbang terima kepemimpinan secara estafetta alamiah, antara pemimpin yang akan pergi dan yang akan menyambung, dalam suatu proses patah tumbuh hilang berganti. Kesudahannya yang dapat mencetuskan api adalah batu pemantik api juga.[10] Di Sumatera Barat dengan Filosofi Adat Budaya Minangkabau ABSSBK semestinya ditanamkan komitmen fungsional bermutu tinggi. Memiliki kemampuan penyatuan konsep-konsep dengan alokasi sumber dana. Perencanaan kerja secara komprehensif. Mendorong terbinanya center of excelences.

Suatu realita objektif bahwa, “Siapa yang paling banyak bisa menyelesaikan persoalan masyarakat, pastilah akan berpeluang banyak untuk mengatur masyarakat itu.” Masyarakat yang mati jiwa akan sulit diajak berpartisipasi dan akan kehilangan semangat kolektifitas. Bahaya akan menimpa tatkala jiwa umat mati di tangan pemimpin. Jangan dibiarkan umat digenggam oleh pemimpin otoriter dengan meninggalkan prinsip musyawarah. Hal tersebut akan sama dengan menyerahkan mayat ketangan orang yang memandikan. Hidupkan lembaga lembaga tungku tigo sajarangan sebagai institusi penting dalam masyarakat Minangkabau sejak dulu membawa umat, melalui informasi dan aktifiti, kepada keadaan yang lebih baik.

Strategi membangun masyarakat adat akan berhasil manakala selalu kokoh dengan prinsip, qanaah dan istiqamah. Berkualitas, dengan iman dan hikmah. Berilmu dan matang dengan visi dan misi. Amar makruf nahyun ‘anil munkar dengan teguh dan professional. Research-oriented dengan berteraskan iman dan berilmu pengetahuan. Mengembalikan Minangkabau keakar Islam tidak boleh dibiar terlalai. Akibatnya akan terlahir bencana.


Pranata sosial Masyarakat di Sumatera Barat yang didiami masyarakat adat Minangkabau semestinya berpedoman kepada Syariat Agama Islam yang bersumber kepada Kitabullah (Al Quranul Karim) dan Sunnah Rasulullah. Indikator pengamalannya direkam dalam Praktek Ibadah, Pola Pandang dan Karakter Masyarakatnya, Sikap Umum dalam Ragam Hubungan Sosial masyarakatnya. Kekerabatan yang erat menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.

KHULASAH

Memerankan kembali organisasi informal, refungsionisasi peran ninik mamak, alim ulama cerdik pandai “suluah bendang dalam nagari” sebagai potensi besar masyarakat Sumatera Barat dengan sistem komunikasi dan koor­dinasi antar organisasi di nagari pada pola pembinaan dan kaderisasi pimpinan non‑formal secara jelas. Dalam gerak “membangun nagari” maka setiap fungsionaris di nagari akan menjadi pengikat umat untuk membentuk jamaah (masyarakat) yang lebih kuat, se­hingga merupakan kekuatan sosial yang efektif.

Nagari semestinya menjadi media pengembangan pemasyarakatan budaya Islami sesuai dengan adagium “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah melalui pendidikan ketauladanan membangun umat mencapai derajat peribadi taqwa serta melaksanakan kegiatan dakwah Islam. Di nagari mesti di lahirkan media pengembangan minat menyangkut aspek kehidupan ekonomi, sosial, budaya dan politik dalam mengembangkan kemasyarakatan yang adil dan sejahtera. Spiritnya adalah;

1. Kebersamaan (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi), ditemukan dalam pepatah “Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan di cito.”

2. Keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang) atau “Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang”. Basalang tenggang, artinya saling meringankan dengan kesediaan memberikan pinjaman atau dukungan terhadap kehidupan dan “Karajo baiak ba-imbau-an, Karajo buruak bahambau-an”.

3. Musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo”.

4. Keimanan yang kuat kepada Allah SWT sebagai pengikat spirit tersebut dengan menjiwai sunnatullah dalam setiap gerak.

5. Mengenal alam keliling “Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru ”.[11]

6. Kecintaan ke nagari menjadi perekat yang sudah dibentuk oleh perjalanan waktu dan pengalaman sejarah [12].

7. Menjaga batas-batas patut dan pantas, jangan terbawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak.

Begitulah semestinya peranan strategis Ninik Mamak, Alim ulama, Cerdik Pandai dan Bundo Kanduang sebagai suluah bendang di dalam lembaga-lembaga adat berfilosofi ABSSBK di nagari-nagari yang ditata secara rapi dalam menapak alaf baru.

Insya Allah.



[1] Penghulu pada setiap suku, yang sering juga disebut ninik mamak nan gadang basa batuah, atau nan di amba gadang, nan di junjung tinggi, sebagai suatu legitimasi masyarakat nan di lewakan.

[2] Bisa juga disebut dengan panggilan urang siak, tuanku, bilal, katib nagari atau imam suku, dll dalam peran dan fungsinya sebagai urang surau pemimpin agama Islam. Gelaran menekankan kepada pemeranan fungsi ditengah denyut nadi kehidupan masyarakat (anak nagari).

[3] Bisa saja terdiri dari anak nagari yang menjabat jabatan pemerintahan, para ilmuan, perguruan tinggi, hartawan, dermawan.

[4] Para remaja, angkatan muda dijuluki nan capek kaki ringan tangan, nan ka di suruah di sarayo.

[5] Kalangan ibu-ibu, yang sesungguhnya ditangan mereka terletak garis keturunan dalam sistim matrilinineal dan masih berlaku hingga saat ini.

[6] Tawakkal, bukan "hanya menyerahkan nasib" dengan tidak berbuat apa-apa, "Bertawakkal lah kamu, seperti burung itu bertawakkal" (Atsar dari Shahabat). Tak ada kebun tempat bertanam, tak ada pasar tempat berdagang. Tak kurang, setiap pagi terbang meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar, dan setiap sore kembali dalam keadaan "kenyang". Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu harus pandai mengendalikan diri, agar jangan melewati batas, dan berlebihan. “Ka lauik riak mahampeh, Ka karang rancam ma-aruih, Ka pantai ombak mamacah. Jiko mangauik kameh-kameh, Jiko mencancang, putuih – putuih, Lah salasai mangko-nyo sudah”. Artinya bekerja sepenuh hati, dengan mengerahkan semua potensi yang ada. Bila mengerjakan sesuatu tidak menyisakan kelalaian ataupun ke-engganan. Tidak berhenti sebelum sampai, dan tidak berakhir sebelum benar-benar sudah.

[7] Hendak (ingin) kaya hemat (berdikit dikit), Hendak tuah bertabur urai, Hendak mulia tepati janji, Hendak lurus rentangkan tali, Hendak beroleh (mendapat) kuat mancari, Hendak nama tinggakan jasa (berbuat jasa yang baik selalu akan diingat orang), Hendak pandai rajin belajara. Karena sekata maka nya ada, Karena sakutu (bersama) makanya maju, Karena ada emas makanya semua akan kemas. Karena adanya padi makanya semua menjadi (Artinya perlu ada persiapan yang mata secara moril dan materil).

Tujuannya sampai kepada taraf yang memungkinkan untuk mampu berdiri sendiri dan membantu nagari tetangga secara selfless help, dengan memberikan bantuan dari rezeki yang telah kita dapatkan tanpa mengharapkan balas jasa. "Pada hal tidak ada padanya budi seseorang yang patut dibalas, tetapi karena hendak mencapai keredhaan Tuhan-Nya Yang Maha Tinggi". (Q.S. Al Lail, 19 - 20). Walaupun didepan terpampang kendala-kendala, namun optimisme banagari mesti selalu dipelihara. Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik.

[8] Sudah berkeris sempurna, Bingkisan Raja Majapahit. Tuah bersebab berkerana, Pandai bertenggang di saat rumit. Ada kearifan dalam bertindak memilih dan menetapkan satu tindakan.

[9] Lihat QS.9:122, supaya mendalami ilmu pengetahuan dan menyampaikan peringatan kepada umat supaya bisa menjaga diri (antisipatif).

[10] Q.S 47;7, artinya, '' Jika Kamu Menolong ( Agama ) Allah, Niscaya Dia Akan Meno­long Kamu”. Kemudian, "Kamu Hanya Akan Dapat Pertolongan Dari Allah Dengan (Menolong) Kaum Yang Lemah Diantara Kamu". (Al-Hadist). Sunnah Rasul mengingatkan, “Dan, Tiap‑Tiap Kamu Adalah Pemimpin, Dan Tiap‑Tiap Pemimpin Akan Di Minta Pertanggungan Jawab Atas Pimpinannya" (Al-Hadist). Jadinya, kewajiban kepemimpinan menjadi tanggung jawab setiap orang.

[11] Alam ditengah-tengah mana manusia berada ini, tidak diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan sia-sia. Di dalamnya terkandung faedah-faedah kekuatan, dan khasiat-khasiat yang diperlukan untuk memperkembang dan mempertinggi mutu hidup jasmani manusia. Manusia diharuskan berusaha membanting tulang dan memeras otak untuk mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam sekelilingnya itu, menikmatinya, sambil mensyukurinya, dan beribadah kepada Ilahi.

[12] Bukti kecintaan kenagari ini banyak terbaca dalam ungkapan-ungkapan pepatah hujan ameh dirantau urang hujang batu dinagari awak, tatungkuik samo makan tanah tatilantang samo mahiruik ambun.

Facebook Badge

Masoed Abidin Za Jabbar's Facebook Profile

Alah Runtuah Ngarai

Alah Runtuah Ngarai

Ngarai Runtuah

Ngarai Runtuah
Dek Gampo

Keluarga Besar

Indonesia Tanah Airku ....

Indonesia Tanah Airku ....

Buya di Hilton Makkah

Buya di Hilton Makkah
Haji 2007

Dibawah reruntuhan Piramida

Dibawah reruntuhan Piramida
Ghiza Kairo

Buya H. Mas'oed Abidin

Buya H. Mas'oed Abidin
Majo Kayo

Umi dan Adibah

Umi dan Adibah
Bersama Keluarga

Bersama Keluarga Besar

Bersama Keluarga Besar
di Sukabumi

Tanggap Bencana

Tanggap Bencana
Pengurus BAZ Sumbar menyalurkan bantuan

Tampilan slide

Loading...

Arsip Blog

SULUAH BENDANG DI RANAH BUNDO

Ketika Negeri Dihoyak Gempa, Ranah Porak Poranda

Runtuah

Runtuah
Bangunan yang hancur akibat gempa

Membagikan Bantuan Gempa

Membagikan Bantuan Gempa
Rijal Simalaoisa dari Mentawai

Peduli Musibah Gempa

Peduli Musibah Gempa
Mengirimkan Beras ke Mentawai

Rumah Gadang alah ratak

Rumah Gadang alah ratak
Gampo Sumbar di Kotogadang

Bantuan Gempa

Bantuan Gempa
Pengiriman Tenda untuk Mentawai

Mengantarkan Bantuan Gempa

Mengantarkan Bantuan Gempa
di Kantor BAZ Sumbar

Rumah Gadang Retak

Rumah Gadang Retak
Akibat Gempa di Batagak

Bencana Gempa Sumbar 2007

Bencana Gempa Sumbar 2007
Pagar hampir runtuh di Guguk Tinggi